Sudah Dipatenkan, Sistem Bekisting Tanpa Tiang Perakitan Hanya Butuh 2 Menit

TEKNIK mengecor pada bangunan yang menggunakan model penyangga konvensional dinilai lebih rentan dan berisiko tinggi. Baik untuk pekerja maupun konstruksi bangunan itu sendiri. Selain itu, penggunaan model penyangga konvensional yang kebanyakan menggunakan kayu memerlukan tenaga, biaya, waktu, dan bahan material yang banyak, sehingga dinilai tidak efisien.

Hal tersebut tampaknya kini sudah dapat diminimalisasi dengan sistem gelagar yang diciptakan oleh salah satu dosen Polines, Sudarmono. ”Ide awalnya muncul tahun 1994 saat Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Jogja. Ada tukang bangunan memasang penyangga cor tidak pakai helm hingga kepalanya kena paku. Akhirnya, saya punya ide untuk membuat penyangga pengecoran tanpa tiang dengan sistem gelagar,” jelas Sudarmono

Setelah lulus S2 pada 2001 hingga 2005, Sudarmono terus menyempurnakan sistem gelagar temuannya itu. Apalagi setelah dirinya menerima dana hibah penelitian. ”Pada 2006 saya mendapatkan dana penelitian lagi dari Dinas Pendidikan Jawa Tengah, saya menggunakan skala penuh dan produk ciptaan saya diuji menggunakan dua dimensi. Tahun 2009, saya dapat dana sangat besar senilai Rp 100 juta, dan saya menggunakan untuk memperbesar sistem gelagar tersebut,” paparnya.

Pada 2012, temuan tersebut dipatenkan oleh Sudarmono. Saat itu, sambil mengurus hak paten, ia melakukan penelitian lagi untuk tipe yang kedua. ”Karena tipe yang pertama temuan saya, dalam merakit masih membutuhkan waktu 15 menit. Pada temuan tahap dua ini, dengan menggunakan baja sebagai penyangga, bisa digunakan dan dirakit hanya membutuhkan waktu 2 menit,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu indikator keberhasilan dalam pekerjaan pengecoran balok dan plat lantai, yakni efisiennya bahan acuan dan perancah untuk proses pengerjaan. Sistem gelagar yang menentukan untuk menopang balok dan lantai terdiri atas rangka batang, yakni balok kayu sebagai elemen tekan/mendatar atas dan baja sebagai elemen diagonal serta batang tarik/mendatar bawah.

”Kelebihan dari sistem gelagar ini lebih cepat pemasangannya. Bahan juga lebih hemat dan bisa dipakai berulang-ulang, selama tidak dirusak. Kalau kita membutuhkan bentang lebih pendek, tinggal mengurangi sambungannya. Atau kalau tidak bisa di kurangi, pemasangan bisa dibuat miring,” jelasnya.

Diakui, kendala dalam pembuatan sistem gelagar ini pasti ada. Tetapi sebelumnya memang sudah ia prediksi dengan hitungan statistik. Sehingga kendala dan halangan dalam pengerjaan alat temuannya tersebut tidak terjadi. ”Selama ini pernah saya implementasikan di poskamling 2 lantai di Sendangmulyo, di rumah tinggal masyarakat 3 lantai, dan rumah saya sendiri 2 lantai,” bebernya.

Untuk penggunaan sendiri paling luas saat ini untuk mengecor luas ruangan 4 x 4 meter. Jika ingin lebih bentangan harus ditambah. Proses pemasangan sendiri bisa dilakukan sendiri, tanpa ada bantuan tenaga lain. Selain itu, waktu pemasangan alat tersebut tidak memakan waktu sampai sehari. Saat ini dirinya juga sudah memiliki prototipe untuk multikonektor dan dual konektor.

Beban dari pengecoran yang berat dapat mengakibatkan hasil cor tidak rata, ada yang melengkung. Hal itu dikarenakan sifat penyangga konvensional yang kekuatannya tidak merata. Menggunakan alat ini, lengkungan tersebut bisa dikembalikan ke posisi semula hanya dengan mengaturnya menggunakan chamber saja selama cor masih basah,” jelasnya.

Dikatakan, susunan rangka berbentuk segitiga sama sisi ciptaannya ini dapat diatur kekencangannya. Prinsip kerja dari gelagar acuan perancah ini, yakni model rangka segitiga sama sisi yang dapat diatur ketegangannya dari elemen baja ulir yang digunakan sebagai komponen rangka.

”Elemen tekan menggunakan balok dengan penampang 5 hingga 7 cm dengan panjang 50 cm untuk gelagar anak (GA) dan 70 cm untuk gelagar induk (GI). Dengan panjang elemen ini memungkinkan mengefisienkan penggunaan kayu pada gelagar acuan perancah,” paparnya.

Sumber : www.radarsemarang.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here