Hendro Subroto Dapat Hak Paten dari Belanda, Produk Aspal dari Bahan Alam Dipakai hingga Israel

SEJAK SMP, Hendro telah tinggal di Belanda bersama kakaknya. Dia juga menyelesaikan kuliahnya di sana. Selepas kuliah, Hendro mulai melakukan penelitian tentang aspal. Dia mengamati jalanan di kawasan Utrecht, Belanda.

Mulai konstruksi, bentuk, hingga kondisi jalan yang sering dilalui kendaraan berat. ’’Lalu, saya simpulkan, aspal di sini tidak terlalu bagus. Buktinya, baru beberapa tahun sudah banyak yang retak saat dilewati banyak truk dan bus,” ucap pengajar teknologi aspal dan konstruksi jalan di Universitas Narotama tersebut.

Dari keisengannya mengamati jalanan, Hendro penasaran mencari formula pelapis jalanan yang tahan lama dan efisien dari segi biaya. Dia meneliti bahan aspal yang biasa digunakan pada umumnya dengan mencari formula baru.

Laboratorium milik perusahaan Koninklijke VolkerWessels Stevin (KWS) Belanda menjadi tempat bermain sehari-hari pria kelahiran Semarang, 21 Mei 1957 itu. ’’Tetapi, saya awalnya hanya iseng, jadi risetnya tidak dirutinkan. Hanya saat waktu luang,” ungkapnya.

Pada 2001 Hendro mulai serius menjajaki risetnya. Dia melakukan pengembangan aspal yang sebelumnya telah dibuat oleh Jerman, yakni aspal jenis stonemastic asphalt. ’’Lalu, saya modifikasi dari segi penambahan bahannya agar lebih tahan lama,’’ ujarnya.

Bahan tambahan tersebut terdiri atas fiber dan wax. Yang istimewa, fiber yang digunakan berasal dari alam. ’’Fibernya dari semua jenis pohon,’’ kata alumnus magister Delft University of Technology itu.

Menurut Hendro, bahan fiber memiliki keistimewaan karena perekatannya kuat. Selain itu, pada proses pembuatan aspal, bahan fiber dapat menekan penggunaan bahan bakar.

Bapak dua anak tersebut menjelaskan, pencampuran fiber hanya membutuhkan suhu kurang dari 150 derajat Celsius. ’’Suhu yang rendah dapat menghemat bahan bakar sehingga ongkos yang keluar tidak terlalu banyak,” jelasnya.

Hal itu dapat menguntungkan perusahaan. Apalagi jika digunakan di Eropa. Untuk penjebolan aspal, bahan campuran fiber alam juga menguntungkan. ’’Mudah dibersihkan, sedangkan yang bahan besi biasanya pembersihannya susah,’’ tuturnya.

Bahan temuan Hendro tersebut juga memiliki kekuatan yang dapat melebihi beton. Dia mengungkapkan, aspal racikannya dapat menahan beban hingga 14 ton.

Bandingkan saja dengan beton yang biasanya hanya mampu menahan hingga 10 ton. ’’Sudah kami uji coba di jalanan daerah Utrecht beberapa tahun lalu. Sampai saat ini, jalanannya masih baik-baik saja,’’ tuturnya.

Hendro membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk menemukan formula bahan aspal yang tepat. Yakni, sejak 2001 hingga awal 2003. Karena hasil risetnya hanya coba-coba, Hendro harus mereka-reka antara teori dan praktik.

’’Seringnya saat dipraktikkan tidak sesuai dengan teori, efeknya kadang tidak terbayangkan,’’ ungkapnya. Kendati sering gagal, Hendro tidak menyerah.

Pria yang juga pernah menjadi consultant office Utrecht tersebut mengaku kesulitan mencari bahan fiber yang pas. ’’Di Belanda jarang sekali ada hutan dan gunung. Bahan fiber alami harus saya cari ke daerah Swiss hingga Indonesia,’’ ungkapnya.

Sebelum diaplikasikan, formula yang telah dibuat harus melalui beberapa tes yang biasa disebut marshall test. Yakni, tes khusus untuk kekuatan produk aspal. Penilaiannya berdasar aspek persiapan benda uji, penentuan berat jenis dari benda uji, pemeriksaan nilai stabilitas dan flow (kelelehan), serta kekuatan.

Dia menjelaskan, bahan aspal dengan campuran fiber alami memiliki kekuatan hingga 80 persen lebih besar. Berkat ketekunannya, pada 2007 risetnya mendapatkan hak paten dari European Patent Office dari Pemerintah Eropa Barat.

Dia menamai produknya Double Enforcement in Stonemastic Asphalt atau disingkat DESA. ’’Supaya namanya terdengar Indonesia. Saya ingin mengusung nama yang terdengar Indonesia,’’ katanya.

Produk DESA-nya kini merambah negara lain seperti Brasil, Israel, dan Jerman. Saat ini beberapa jalanan di Utrecht sudah menggunakan produk aspalnya. ’’Saat diuji coba sembilan tahun lalu hingga sekarang, kondisinya masih mulus meski sering dilewati truk,’’ ujarnya.

Teknologi tersebut, menurut Hendro, sangat cocok jika diterapkan di Indonesia. Kualitas jalan raya Indonesia yang setiap tahun mengalami kerusakan dapat diatasi dengan produk DESA-nya.

’’Selama ini problem jalanan itu disebabkan fondasi yang tidak kuat. Saya pernah mengamati jalanan di daerah Semarang yang landasannya sangat tipis. Tidak salah kalau aspal hanya bertahan tidak sampai tiga tahun,” tuturnya.

Dia juga optimistis teknologi aspalnya dapat dikembangkan di Indonesia. ’’Sebab, Indonesia memiliki bahan alam yang berlimpah. Banyak gunung dan hutan,’’ jelasnya.

Ke depan, dia merancang bahan aspal yang cocok dengan iklim indonesia. ’’Di Indonesia bahan sangat berlimpah. Saya yakin dapat dikembangkan dan disebarluaskan untuk Indonesia,’’ ungkapnya.

Sumber : Jawa Pos

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here