Bekisting Balok dan Pelat Sistem CUPSLOCK

Bekisting adalah suatu sarana pembantu struktur beton untuk pencetak beton sesuai dengan ukuran, bentuk, rupa ataupun posisi yang direncanakan.Bekisting adalah suatu sarana pembantu struktur beton untuk pencetak beton sesuai dengan ukuran, bentuk, rupa ataupun posisi yang direncanakan.Pada umumnya sebuah bekisting merupakan sebuah konstruksi yang bersifat sementara dengan tiga fungsi utama, yaitu :

  1. Bekisting menentukan bentuk dari konstruksi beton yang akan dibuat. Bentuk sederhana dari sebuah konstruksi beton menghendaki sebuah bekisting yang sederhana.
  2. Bekisting harus dapat menyerap dengan aman beban yang ditimbulkan oleh spesi beton dan berbagai beban luar serta getaran. Dalam hal ini perubahan bentuk yang timbul dan geseran-geseran dapat diperkenankan asalkan tidak melampui toleransi-toleransi tertentu.
  3. Bekisting harus dapat dengan cara sederhana dipasang, dilepas dan dipindahkan.

CUPSLOCK

Keuntungan menggunakan sistem cupslock adalah dapat mengurangi jumlah tenaga kerja karena pemasangan yang mudah dan tidak membutuhkan banyak pekerja, mudah ditangani, mudah dipasang dan disimpan, tidak membutuhkan banyak material, bekisting yang dipasang kelihatan lebih rapi dan masih memungkinkan untuk jalan akses pekerja di antara bekisting, membutuhkan waktu yang relatif lebih cepat dalam pemasangannya. Empat elemen horizontal dapat dikencangkan dalam satu waktu membuat koneksi titik yang sangat rigid oleh aksi menjepit bagian atas cupslock tanpa menggunakan baut, sistem cupslock berdasarkan metode satu titik fiksasi.  Di samping mempunyai daya dukung yang tinggi, sistem ini sangat mudah mendirikan dan membongkarnya. Tidak ada bagian yang tidak dipasang pada tempatnya.

Elemen-Elemen Cupslock

Elemen Vertikal

Berfungsi untuk menahan beban di atasnya

Bahan dari hot dip galvanis, Diameter 48.3 mm, Tebal 3.25 mm, Panjang 1 m, 1.5 m, 2 m

Elemen Horisontal

Berfungsi untuk merangkai dan menyatukan batang vertikal sehingga didapat satu kesatuan yang kokoh

Bahan dari hot dip galvanis, Diameter 48.3 mm, Tebal 3.25 mm, Panjang 0.5 m; 1 m; 1.5 m; 2 m

Tripod Telescopic

Fungsi  sebagai tumpuan dan menjaga support agar tetap dalam posisi vertikal, tidak goyah dan kuat

Bahan hot dip galvanis, Tinggi 75 cm

Support Telescopic

Fungsi menahan beban di atasnya

Bahan hot dip galvanis, Panjang 3 m, 3.5 m, 4 m, 4.5 m

JACKBASE

Fungsi sebagai tumpuan cupslock pada lantai

Bahan galvanis, Panjang 75 cm, Dimensi 15 cm x 15 cm

U HEAD

Fungsi sebagai tumpuan balok girder H20

Bahan galvanis, Panjang 75 cm, Dimensi 24 cm x 15 cm x 20 cm

JOINT PIN

Fungsi sebagai connector vertikal elemen

Bahan galvanis, Panjang 20 cm

PAPAN PHENOLIC

Fungsi meratakan permukaan balok dan slab

Bahan plywood yang dilapisi film, Tebal 12 mm, Panjang 2.44 m, Lebar 1.22 m

Balok Girder H 20
Balok girder dapat digunakan sebagai main girder dan secondary girder untuk semua bekisting beton. Balok girder sangat kuat, fleksibel, rigid dan mempunyai masa penggunaan yang cukup lama. Balok girder tersedia dalam beberapa ketebalan dan kombinasi. 3 lapisan balok girder dibuat dari kayu yang dikeringkan dengan hati-hati, dilem anti air dan permukaannya dilapisi dengan resin sintetik. Balok girder mempunyai berat jenis 5 kg/m.

Fungsi sebagai perkuatan bekisting untuk menerima beban di atasnya

Bahan dari Finland birch, Panjang 2.45 m; 2.90 m; 3.3 m; 3.6 m; 3.9 m; 4.9 m; 5.9 m

Secondary Girder

– Pipa Besi

Fungsi untuk meratakan beban yang ada di atasnya

Bahan dari besi, Panjang 3 m, 4 m , 6 m, Diameter 5 cm

– Pipa Hollow

Fungsi untuk meratakan beban yang ada di atasnya

Bahan dari besi, Panjang 3 m, 4 m , 6 m, Dimensi 5 cm x 5 cm

– Kanal C

Fungsi untuk meratakan beban yang ada di atasnya

Bahan dari besi, Panjang 4 m

Siku Baja

Fungsi sebagai pengunci dinding balok agar sesuai dengan bentuk yang diinginkan dan menahan beban dari samping balok

Bahan baja siku, Dimensi 5 cm x 5 cm x 5 mm, Panjang tergantung dengan dimensi balok

Balok Suri-suri

Fungsi untuk menahan beban balok dan ¼ plat

Bahan kayu kamper Medan, rasamala, kruing, Dimensi 6/12; 5/10, Panjang menyesuaikan dari dimensi balok

Urutan pekerjaan pemasangan bekisting

Flowchart pemasangan bekisting

1. Persiapan dan Fabrikasi
Sebelum pelaksanaan pekerjaan bekisting harus diperhitungkan terlebih dahulu kebutuhan material bekisting sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Penempatan material bekisting harus pada tempat yang terlindung terhadap cuaca, memiliki sirkulasi udara yang baik, serta diletakkan di atas balok penumpu. Penempatan bahan material di lokasi proyek harus berada dekat dengan tempat yang akan dilakukan pekerjaan bekisting. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pengambilan material dan memudahkan pekerjaan bekisting. Tetapi penempatan material tidak diperbolehkan secara sembarangan dan asal tumpuk saja, material harus disusun secara rapi dan sesuai dengan kebutuhan material yang akan dipasang dan diletakkan di satu tempat yang sama sehingga tidak kelihatan semrawut dan tidak menggangu aktifitas pekerjaan lain.

2. Marking


Tim survey akan membuat pinjaman elevasi dan as, biasanya ditempatkan di kolom atau dinding corewall. Pinjaman didapat dari titik BM yang dibuat di luar gedung dan di dalam gedung. Titik BM harus sudah diketahui nilai koordinat dan elevasinya, dan tempatnya tidak boleh berubah-ubah. Semua marking ditentukan dari BM yang sudah ada. Besarnya nilai pinjaman biasanya sudah ditentukan oleh tim survey atau  sesuai dengan kesepakatan antara tim survey dan pelaksana di lapangan. Besarnya elevasi pinjaman biasanya 1 m dari top lantai struktur. Tinggi bottom balok dan bottom slab harus mengacu pada marking yang sudah dibuat oleh tim survey supaya diperoleh elevasi lantai yang sesuai shop drawing.

3. Setting Bekisting

Bekisting Balok menggunakan cupslock

Flow Chart setting bekisting Balok memakai Cupslock

a. Menentukan tinggi bottom balok dan as balok dari pinjaman elevasi dan as yang sudah dibuat surveyor dari titik BM yang ada.

b. Setelah mengetahui berapa besarnya tinggi balok dari permukaan lantai struktur maka ditentukan kombinasi panjang elemen vertikal yang akan digunakan. Panjang elemen vertikal terdiri dari 1 m, 1.5 m, 2 m. Elemen vertikal yang akan digunakan disesuaikan dengan keadaan lapangan dan dibuat seefektif mungkin, serta harus ada ruang untuk naik turunnya jack base maupun U Head.

c. Tinggi jack base dan U Head ditentukan setelah didapat kombinasi elemen vertikal yang digunakan. Jack base dan U Head dapat diatur ketinggiannya menyesuaikan ketinggian yang diinginkan.

d. Tinggi jack base ditentukan kemudian dipasang pada posisi paling bawah berfungsi sebagai tumpuan dari elemen vertikal. Jack base memiliki plat berbentuk persegi berukuran 15 cm x 15 cm yang merupakan plat yang rata yang menumpu pada plat struktur bawah. Plat ini berfungsi agar elemen vertikal yang menumpu pada plat tidak goyah dan dalam kondisi stabil. Plat juga berfungsi untuk memperoleh permukaan bekisting yang rata dan datar.

e. Elemen vertikal dipasang di atas jack base sesuai dengan kombinasi panjang yang telah ditentukan.

f. Elemen horisontal dipasang setelah elemen vertikal terpasang belum terlalu tinggi. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh bekisting cupslock yang kuat dan stabil. Panjang elemen horisontal yang dipasang disesuaikan dengan keadaan lapangan dan gambar kerja. Semakin besar beban yang diterima oleh bekisting maka elemen horisontal dipasang secara rapat. Panjang elemen horisontal yang digunakan adalah 0.5 m, 1 m, 1.5 m, dan 2 m.

g. Setelah elemen vertikal dan elemen horisontal terangkai dan membentuk struktur yang sudah kuat maka U Head dapat dipasang di atas elemen vertikal. U Head yang dipasang sudah ditentukan tingginya. Walaupun demikian tinggi U Head masih dapat diubah sesuai dengan ketinggian yang diinginkan.h. Girder H 20 dipasang menumpu pada U Head dan memanjang sejajar dengan balok.

Detail Bekisting Balok

i. Di atas girder H 20 dipasang balok suri-suri yang arahnya tegak lurus dengan balok dan girder. Panjang balok suri-suri disesuaikan dengan dimensi balok. Panjang minimal balok suri-suri adalah lebar balok ditambah dengan dua kali tinggi balok. Balok suri-suri menggunakan kayu 5/10 atau 6/12, tetapi dalam kenyataan di lapangan terkadang juga dipasang girder sebagai balok suri-suri. Untuk balok dengan dimensi di atas 60 cm maka balok suri-suri dipasang dengan jarak minimum 90 cm, di lapangan biasanya dipasang dengan jarak 50 cm dari as ke as.

j. Panel bottom balok dibuat sesuai dengan dimensi balok yang akan dipasang bekisting. Panel bottom balok dibuat dari papan phenolic yang dikedua ujungnya dipasang besi siku dimensi 5 cm x 5 cm x 5 mm. Kemudian diperkuat dengan balok kayu 5/7 atau kayu 4/7 dipasang dengan jarak 47 cm di bagian tengah dan 23 cm di bagian pinggir. Sehingga akan didapat panel bottom balok sepanjang 2.4 m sesuai dengan panjang papan phenolic. Lebar panel bottom balok sama dengan lebar balok. Panel bottom balok dipaku dengan balok suri-suri agar kokoh dan tidak bergeser kedudukannya.

k. Pada dasarnya panel seat beam sama dengan panel bottom balok, panel seat beam dipasang tegak lurus dengan bottom balok dan berfungsi sebagai bekisting dinding balok. Panel seat beam dibuat sesuai dengan dimensi balok yang akan dipasang bekisting. Panel bottom balok dibuat dari papan phenolic yang dikedua ujungnya dipasang besi siku dimensi 5 cm x 5 cm x 5 mm. Kemudian diperkuat dengan balok kayu 5/7 atau kayu 4/7 dipasang dengan jarak 47 cm di bagian tengah dan 23 cm di bagian pinggir. Sehingga akan didapat panel seat beam sepanjang 2.4 m sesuai dengan panjang papan phenolic. Tinggi panel seat beam adalah tinggi balok dikurangi dengan tebal plat dan ditambah 5 cm tebal balok perkuatan panel bottom balok. Panel bottom balok dipaku dengan balok suri-suri agar kokoh dan tidak bergeser kedudukannya.

l. Besi siku dipasang untuk mengunci panel seat beam agar panel seat beam tidak jebol menerima tekanan cor balok dan agar didapat dinding balok yang lurus sesuai dengan kualitas yang diinginkan. Besi siku dipasang tiap jarak 60 cm.

 

Bekisting balok menggunakan Cupslock

Bekisting Slab menggunakan cupslock

Flow Chart setting bekisting Pelat memakai Cupslock

a. Menentukan tinggi bottom slab dari pinjaman elevasi dan as yang sudah dibuat surveyor dari titik BM yang ada.

b. Setelah mengetahui berapa besarnya tinggi slab dari permukaan lantai struktur maka ditentukan kombinasi panjang elemen vertikal yang akan digunakan. Panjang elemen vertikal terdiri dari 1 m, 1.5 m, 2 m. Elemen vertikal yang akan digunakan disesuaikan dengan keadaan lapangan dan dibuat seefektif mungkin serta harus ada ruang untuk naik turunnya jack base maupun U Head.

c. Tinggi jack base dan U Head ditentukan setelah didapat kombinasi elemen vertikal yang digunakan. Jack base dan U Head dapat diatur ketinggiannya menyesuaikan ketinggian yang diinginkan.

d. Tinggi jack base ditentukan kemudian dipasang pada posisi paling bawah berfungsi sebagai tumpuan dari elemen vertikal. Jack base memiliki plat berbentuk persegi berukuran 15 cm x 15 cm yang merupakan plat yang rata yang menumpu pada pelat struktur bawah. Plat ini berfungsi agar elemen vertikal yang menumpu pada plat tidak goyah dan dalam kondisi stabil. Plat juga berfungsi untuk memperoleh permukaan bekisting yang rata dan datar.

e. Elemen vertikal dipasang di atas jack base sesuai dengan kombinasi panjang yang telah ditentukan.

f. Elemen horisontal dipasang setelah elemen vertikal terpasang belum terlalu tinggi. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh bekisting cupslock yang kuat dan stabil. Panjang elemen horisontal yang dipasang disesuaikan dengan keadaan lapangan dan gambar kerja. Semakin besar beban yang diterima oleh bekisting maka elemen horisontal dipasang secara rapat. Panjang elemen horisontal yang digunakan adalah 0.5 m, 1 m, 1.5 m, dan 2 m.

g. Setelah elemen vertikal dan elemen horisontal terangkai dan membentuk struktur yang sudah kuat maka U Head dapat dipasang di atas elemen vertikal. U Head yang dipasang sudah ditentukan tingginya. Walaupun demikian tinggi U Head masih dapat diubah sesuai dengan ketinggian yang diinginkan.

h. Girder H 20 dipasang menumpu pada U Head.

i. Di atas girder H 20 dipasang secondary girder yang arahnya tegak lurus dengan girder. Secondary girder yang dipasang dapat berupa pipa besi maupun pipa hollow. Dalam suatu tempat harus dipasang jenis secondary girder yang sama agar didapat permukaan yang rata sehingga slab yang didapat tidak bunting atau melendut. Secondary girder dipasang dengan jarak 20 cm – 25 cm. Jarak yang relatif rapat berfungsi agar papan phenolic tidak melendut menerima beban slab. Jika memakai secondary girder dari jenis pipa besi maka pipa besi harus dijepit dengan paku di samping kanan dan kirinya agar pipa besi tidak bergeser.

j. Papan phenolic dipasang di atas secondary girder. Papan phenolic yang dipasang mempunyai ukuran 1.22 m x 2.44 m atau bentuknya mengikuti keadaan lapangan. Papan phenolic dapat dipakai berulang kali maksimal 5 kali atau selama permukaan filmnya tidak rusak dan masih licin maka papan phenolic masih dapat dipakai. Sambungan antar papan phenolic harus ditutup dengan lakban agar air semen tidak keluar lewat celah antar papan phenolic. Penutupan dengan lakban agar permukaan slab tidak terjadi ngeplin

Beksiting Pelat menggunakan Cupslock

4. Checking perkuatan dan elevasi 

Checking Elevasi
Checking Elevasi

Setelah semua komponen bekisting sudah dipasang dan pekerjaan pembesian sudah selesai dikerjakan maka harus dicheck mengenai perkuatan bekisting dan elevasi dari bottom slab maupun bottom balok. Pengecekan kekuatan dilakukan agar pada saat pengecoran didapat bekisting yang kuat dan mampu menahan beban cor. Pengecekan elevasi dilakukan agar diperoleh permukaan yang rata sesuai dengan elevasi gambar kerja. Check elevasi sering disebut check levelling slab. Surveyor akan menembak bottom slab atau balok menggunakan rambu dan alat waterpas, diukur dengan acuan marking yang sudah dibuat pada dinding kolom maupun pada dinding corewall. Jika didapatkan elevasi yang tidak sesuai maka ketinggian bekisting diatur dengan mengatur ketinggian jack base maupun U Head sampai didapat ketinggian yang diinginkan. Pengecekan dilakukan secara merata di seluruh areal yang dipasang bekisting

5. Pembersihan
Pembersihan dilakukan jika slab dan balok sudah siap untuk dicor dan semua tahapan pemasangan bekisting dilakukan dengan benar. Pembersihan sangat penting dilakukan agar kotoran – kotoran yang ada tidak menempel pada beton dan beton yang dihasilkan tidak keropos. Pembersihan menggunakan kompressor udara sehingga kotoran – kotoran yang susah untuk diambil dapat hilang. Terkadang pada panel bekisting balok dilubangi untuk keluarnya kotoran. Setelah pembersihan selesai maka lubang harus ditutup kembali. Untuk membersihkan paku pada tempat-tempat yang sulit dijangkau oleh tangan maka digunakan kayu ujungnya sudah dipasang dengan magnet.

6. Pembongkaran bekisting 
a. Pembongkaran bekisting slab setelah 7 hari pengecoran  Bekisting slab dapat di bongkar setelah 7 hari pengecoran dan di ganti dengan tiang saport berjarak 1 – 1.5 meter dengan syarat balok dan pelat lantai yang telah di cor tidak boleh dibebani dahulu. Misalnya untuk pemasangan bekisting balok dan pelat lantai di atasnya.
b. Pembongkaran  bekisting slab dan balok setelah 14 hari pengecoran.Bekisting balok dan slab dapat dibongkar setelah 14 hari dan diganti dengan tiang saport berjarak 1 – 1,5 meter dan boleh melakukan pekerjaan pemasangan bekisting  dan pembesian balok dan pelat lantai di atasnya dengan syarat hasil test kuat tekan beton balok dan pelat telah memenuhi 88 % .

Dalam pembongkaran bekisting, pekerja sering melakukannya secara asal-asalan tanpa memperdulikan keselamatan diri dan kualitas material-material bekisting yang dibongkar. Hal ini menyebabkan waste material bekisting menjadi semakin besar karena banyak material yang rusak dan tidak dapat digunakan kembali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here