Balok Post Tension, Solusi untuk Balok Bentang Panjang di Struktur Gedung

Pengertian beton prategang menurut beberapa peraturan adalah sebagai berikut:
a. Menurut PBI – 1971
Beton prategang adalah beton bertulang dimana telah ditimbulkan tegangan-tegangan intern dengan nilai dan pembagian yang sedemikian rupa hingga tegangan-tegangan akibat beton- beton dapat dinetralkan sampai suatu taraf yang diinginkan.
b. Menurut Draft Konsensus Pedoman Beton 1998
Beton prategang adalah beton bertulang yang dimana telah diberikan tegangan dalam untuk mengurangi tegangan tarik potensial dalam beton akibat pemberian beban yang bekerja.
c. Menurut ACI
Beton prategang adalah beton yang mengalami tegangan internal dengan besar dan distribusi sedemikian rupa sehingga dapat mengimbangi sampai batas tertentu tegangan yang terjadi akibat beban eksternal.

Perilaku Struktur, Beton akan retak jika ada beban
Perilaku Struktur Beton Bertulang, Keretakan tarik ditanggung oleh tulangan

Struktur balok prategang merupakan struktur beton dimana balok diusahakan tidak mengalami tegangan tarik dengan cara memberikan kabel prategang yang merupakan baja mutu tinggi dan digabungkan dengan beton mutu tinggi. Dengan cara menarik kabel prategang dan diangkurkan ke beton maka baja yang semula tertarik setelah diangkurkan ke beton tarikan tersebut akan dilimpahkan ke beton sehingga beton akan tertekan. Dengan demikian beton yang semula getas akan mampu memikul tegangan tarik sehingga lahirlah konsep bahwa pada beton prategang tidak ada tegangan tarik.

Konsep Balok Prategang
Perilaku Struktur Balok Prategang

Dengan konsep ini dimensi Balok bisa menjadi lebih kecil walaupun dengan bentangan balok yang cukup panjang.

Sistem pra-tegang yang akan digunakan harus dipilih dengan memenuhi semua peraturan yang dipakai di Indonesia. Pada umumnya tidak terdapat perubahan pada posisi sentroid gaya pra-tegang total sepanjang elemen dan pada besar gaya pra-tegang efektif akhir sebagaimana yang direncanakan.

Tidak seperti beton konvensional, beton prategang mengalami beberapa tahap pembebanan. Pada setiap tahap pembebanan harus dilakukan pengecekan atas kondisi serat tekan dan serat tarik dari setiap penampang. Pada tahap tersebut berlaku tegangan ijin yang berbeda-beda sesuai kondisi beton dan tendon. Ada dua tahap pembebanan pada beton prategang, yaitu transfer dan service.

  1. Tahap transfer adalah tahap pada saat beton sudah mulai mengering dan dilakukan penarikan kabel prategang. Pada saat ini biasanya yang bekerja hanya beban mati struktur, yaitu berat sendiri struktur ditambah beban pekerja dan alat. Pada saat ini beban hidup belum bekerja sehingga momen yang bekerja adalah minimum, sementara gaya yang bekerja adalah maksimum karena belum ada kehilangan gaya prategang.
  2. Kondisi service (servis) adalah kondisi pada saat beton prategang digunakan sebagai komponen struktur. Kondisi ini dicapai setelah semua kehilangan gaya prategang dipertimbangkan. Pada saat ini beban luar pada kondisi yang maksimum sedangkan gaya pratekan mendekati harga minimum.

Beton Prategang ( Prestressed concrete ) mempunyai beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan beton konvensional biasa, antara lain:

Kelebihan dari segi teknis :

  • Terhindarnya retak terbuka didaerah tarik, sehingga beton prategang akan lebih tahan terhadap korosi.
  • Kedap air, bagus digunakan untuk proyek yang dekat dengan perairan.
  • Karena terbentuknya lawan lendut akibat gaya prategang sebelum beban rencana bekerja, maka lendutan akhir setelah beban rencana bekerja, akan lebih kecil dari pada beton bertulang biasa.
  • Efisien karena dimensi penampang struktur akan lebih kecil atau langsing, sebab seluruh luas penampang dipergunakan secara efektif.
  • Jumlah penggunaan baja jauh lebih sedikit dari pada jumlah berat besi penulangan pada konstruksi beton konvensional biasa.
  • Ketahanan terhadap geser dan ketahanan terhadap puntirnya meningkat.

kelebihan dari segi teknis ini akan mempengaruhi biaya untuk memproduksi beton prategang itu sendiri, dan dari segi ekonomis beton prategang juga memiliki beberapa kelebihan antara lain :

  • Volume beton yang digunakan untuk produksi beton prategang lebih sedikit
  • Jumlah baja/besi yang digunakan untuk produksi beton prategang sedikit.
  • Beton prategang akan lebih menguntungkan jika dibuat dalam jumlah besar
  • beton prategang hampir tidak memerlukan biaya pemeliharan, lebih tahan lama karena, dapat membuat balok dengan bentang yang lebih panjang.

Dengan menggunakan beton prategang bisa menghemat waktu pelaksanaan konstruksi.

JENIS-JENIS STRUKTUR BETON PRATEGANG

1. Menurut waktu penarikan baja prategang:
Pra Penarikan (Pre Tension)

Pre stressing dilakukan terlebih dahulu baru dilakukan pengecoran

Penarikan Purna (Post Tension)

Stressing dilakukan setelah pengecoran

2. Letak baja prategang:
Internal Prestressing

Komponen Pra tegang ada didalam struktur

External Prestressing

Komponen Pra tegang ada di luar Struktur

Material Balok POST TENSION

STRAND

Strand

a) Untaian kawat (strand) pra-tegang harus terdiri dari 7 kawat (wire) dengan kuat tarik tinggi, bebas tegangan, relaksasi rendah dengan panjang menerus tanpa sambungan atau kopel sesuai dengan AASHTO M203 – 90. Untaian kawat tersebut harus mempunyai kekuatan leleh minimum sebesar 16.000 kg/cm2 dan kekuatan batas minimum dari 19.000 kg/cm2.

b) Kawat (wire) pra-tegang harus terdiri dari kawat dengan kuat tarik tinggi dengan panjang menerus tanpa sambungan atau kopel dan harus sesuai dengan AASHTO M204 – 89.

c) Batang logam campuran dengan kuat tarik tinggi harus bebas tegangan kemu-dian diregangkan secara dingin minimum sebesar 9.100 kg/cm2.

Setelah peregangan dingin, maka sifat fisiknya akan menjadi sebagai berikut :

Kekuatan batas tarik minimum : 10.000 kg/cm2.
Kekuatan leleh minimum, diukur dengan per- panjangan 0,7% menurut metode pembebanan tidak boleh kurang dari : 9.100 kg/cm2.
Modulus elastisitas minimum : 25.000.000 kg/cm2
Pemuluran (elongation) min. setelah runtuh (rupture) dihitung rata-rata terhadap 20 batang : 4 %.
Toleransi diamater : + 0,76 mm dan  – 0,25 mm

Spesifikasi strand yang digunakan adalah sebagai berikut :

Material : Sevenwire stress-relieve uncoated strand
Type & grade : Nominal diameter 12.7 mm
Nominal steel area 98.71 mm2
Minimum ultimate tension strength 183.7 kN
Minimum yield tension strength 156.1 kN
Specification : ASTM A416-90 (Grade 270) – Low relaxation

DUCT

Duct, tempat untuk Strand

Duct atau sering juga disebut sebagai selongsong ini berfungsi sebagai pembungkus strand. Selongsong yang disediakan untuk kabel post tension harus dibentuk dengan bantuan selongsong berusuk yang lentur atau selongsong logam bergelombang yang digalvanisasi. Bahan dasarnya adalah ”galvaized zinc’ yang berupa pipa berulir, dan harus cukup kaku untuk mempertahankan profil yang diinginkan antara titik-titik penunjang selama pekerjaan penegangan. Ujung selongsong harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat memberikan gerak bebas pada ujung jangkar. Sambungan antara ruas-ruas selongsong harus benar-benar merupakan sambungan logam dan segera harus ditutup sampai rapat dengan menggunakan lakban tahan air untuk mencegah kebocoran adukan.

Sambungan antar Duct

Selongsong harus bebas dari belahan, retakan, dan sebagainya. Sambungan harus dibuat dengan hati-hati dengan cara sedemikian hingga saling mengikat rapat dengan adukan. Selongsong yang rusak harus dikeluarkan dari tempat kerja. Lubang udara harus disediakan pada puncak dan pada tempat lainnya dimana diperlukan sedemikian hingga penyuntikan adukan semen dapat mengisi semua rongga sepanjang seluruh panjang selongsong sampai penuh.

Tabel Diameter Duct dan Jumlah Strand

ANGKUR

Angkur Hidup

Penjangkaran harus mampu menahan paling sedikit 95% kuat tarik minimum baja pra-tegang, dan harus memberikan penyebaran tegangan yang merata dalam beton pada ujung kabel pra-tegang. Perlengkapan harus disediakan untuk perlindungan jangkar dari korosi.

Perkakas penjangkaran untuk semua sistem pasca-penegangan (post-tension) akan dipasang tepat tegak lurus terhadap semua arah sumbu kabel untuk pasca-penegangan. Jangkar harus dilengkapi dengan selongsong atau penghubung yang cocok lainnya untuk memungkinkan penyuntikan (grouting).

Angkur Mati Tipe H
Angkur Mati Tipe U

Ada 2 tipe angkur yang digunakan, yaitu angkur hidup dengan tipe S dan angkur mati dengan tipe H dan tipe U. Angkur yang digunakan adalah angkur sistem VSL.

Tabel Jenis Angkur yang dipakai dan Jumlah Strand

BETON

Beton yang digunakan mempunyai kekuatan karakteristik fc’ = 40 Mpa. Kekuatan hancur beton minimum saat penarikan adalah 80 % dari kekuatan beton karakteristik, yaitu sebesar 320 kg/cm2. Kekuatan beton prestress minimum disyaratkan pada umur 28 hari = 400 kg/cm2.

GROUTING


Komposisi bahan grouting yang digunakan adalah :

Semen : Tipe I 50 kg ( 1 zak )
Air : (40-45) % berat semen; 20-22,5 liter per zak semen
Additives : Cebex – 100   0.45 % dari berat semen; 225 gram per zak semen

SUPPORT BAR

Support bar menggunakan besi dengan diameter 13 mm

Support Bar dipasang di dalam balok dan berfungsi sebagai dudukan duct agar sesuai dengan elevasi yang tertera pada gambar kerja. Support bar menggunakan besi dengan diameter 13 mm dan panjangnya disesuaikan dengan lebar balok.

BURSTING STEEL

Dipasang di belakang angkur hidup berfungsi sebagai tambahan perkuatan tulangan pada saat stressing

Bursting steel dipasang di belakang angkur hidup berfungsi sebagai tambahan perkuatan tulangan pada saat stressing. Ukuran, bentuk dan jarak disesuaikan dengan gambar kerja.

SPIRAL

Berfungsi sebagai tambahan perkuatan tulangan pada saat stressing

Spiral hampir sama fungsinya dengan bursting steel tetapi spiral dipasang di depan angkur mati. Berfungsi sebagai tambahan perkuatan tulangan pada saat stressing. Ukuran, bentuk dan jarak disesuaikan dengan gambar kerja.

CASTING

Casting merupakan bagian dari angkur hidup

Casting merupakan bagian dari angkur hidup dan pemasangannya disesuaikan dengan koordinat yang ada pada gambar kerja.

ALAT YANG DIGUNAKAN UNTUK BALOK POST TENSION

Hydraulic Jack 12 S

Kapasitas 200 ton

Hydarulic Jack 12 S berfungsi sebagai alat untuk stressing strand. Alat ini hanya bisa melakukan stressing maksimum dalam tendon berisi 12 strand.

Hydraulic Jack SA 519/ ZPE 19 (19 S)

Kapsitas 300 ton

Hydarulic Jack 19 S berfungsi sebagai alat untuk stressing strand. Alat ini hanya bisa melakukan stressing maksimum dalam tendon berisi 19 strand.

Hydarulic Jack TCH

Kapasitas 20 Ton

Hydarulic Jack TCH berfungsi sebagai alat untuk stressing strand. Alat ini hanya bisa melakukan stressing 1 strand.

Hydraulic Pump PE 550 ( 1 Phase )

Max. Pressure : 10.000 Psi Kapasitas 9 Liter

Hydraulic Pump PE 550 ( 1 Phase ) berfungsi sebagai alat untuk mmberikan tenaga dan menggerakkan Hydraulic jack. Alat ini menggunakan listrik 1 fase.

Hydraulic Pump PQ 1204 ( 3 Phase )

Max. Pressure : 10.000 Psi Kapasitas 18 Liter

Hydraulic Pump PQ 1204 ( 3 Phase ) berfungsi sebagai alat untuk mmberikan tenaga dan menggerakkan Hydraulic jack. Alat ini menggunakan listrik 3 fase.

Hydraulic Pump EHPS ¾

Hydraulic Pump EHPS ¾ berfungsi sebagai alat untuk mmberikan tenaga dan menggerakkan Hydraulic jack.

Grout Pump

Delivery 40 Liter/menit

Grout pump berfungsi sebagai mesin untuk memompakan semen grouting.

Alur Kerja Pekerjaan Balok Post Tension

METODE PELAKSANAAN BALOK POST TENSION

1. Pengajuan Kesiapan Kerja

a) Kontraktor harus menyerahkan rincian sistim, peralatan dan bahan yang hendak digunakan dalam operasi pra-tegang. Rincian tersebut harus meliputi metode dan urutan penegangan, rincian lengkap untuk baja pra-tegang, perkakas penjangkaran, jenis selongsong dan setiap data relatif lainnya untuk operasi pra-tegang. Malahan rincian tersebut harus menunjukkan setiap susunan dari baja tulangan yang bukan pra-tegang seperti yang ditunjukkan dalam gambar kerja.
b) Bilamana sistim pra-tegang yang diusulkan oleh Kontraktor memerlukan modifikasi dalam jumlah, bentuk atau ukuran baja tulangan, maka Kontraktor harus menyerahkan gambar dan perhitungan yang cukup terinci untuk mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan. Baja tulangan yang disediakan tidak boleh kurang dari yang ditunjukkan dalam gambar kerja.
c) Suatu sertifikat persetujuan (perjanjian) resmi untuk sistim pra-tegang harus diserahkan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebelum penempatan setiap kabel prategang. Sertifikat persetujuan ini harus dikeluarkan oleh suatu lembaga pengujian yang resmi. Sebaliknya Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan sedemikian hingga diperoleh suatu sertifikat persetujuan dari laboratorium pilihan Direksi Pekerjaan atas biaya Kontraktor. Semua peraturan yang berhubungan dengan sertifikat persetujuan ini selanjutnya harus tunduk pada persetujuan dari Direksi Pekerjaan.
d) Untuk setiap jenis elemen pra-tegang Kontraktor harus menyerahkan 2 set semua detil gambar kerja, disiapkan secara khusus untuk Kontrak, kepada Direksi Pekerjaan untuk peninjauan ulang. Setelah peninjauan ulang, 3 set harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan, untuk digunakan selama pelaksanaan. Detil gambar kerja harus meliputi judul pekerjaan, nama struktur seperti ditunjukkan dalam Gambar, dan nomor Kontrak. Kontraktor tidak boleh mengecor setiap elemen yang akan dipra-tegangkan sebelum peninjauan ulang detil gambar kerja terinci selesai.

2. Penempatan Bahan

Strand dalam Gulungan

Kawat baja kuat tarik tinggi atau batang baja kuat tarik tinggi yang akan digunakan dalam pekerjaan pra-tegang harus dipasok dalam gulungan berdiameter cukup besar agar dapat mempertahankan sifat-sifat yang disyaratkan dan akan tetap lurus bila dibuka dari gulungan tersebut. Bahan harus dalam kondisi baik, tidak tertekuk atau bengkok. Strand didatangkan dalam bentuk gulungan, di mana setiap gulungan merupakan satu potong strand dengan panjang yang sesuai dengan panjang yang sesuai dengan panjang tendon pada bentang tersebut. Kabel harus disimpan dalam kelompok-kelompok menurut ukuran dan panjangnya, diikat dan diberi label yang menunjukkan ukuran kabel dalam gulungan.

Penempatan strand pada ruang yang terlindung terhadap cuaca, memiliki sirkulasi udara yang baik, serta diletakkan di atas balok penumpu. Bahan kabel, kawat, batang baja, jangkar, selongsong harus disimpan di bawah atap yang kedap air, diletakkan terpisah dari permukan tanah dan harus dilindungi dari setiap kemungkinan kerusakan.

Bahan tersebut harus bebas dari karat, kotoran, bahan lain yang lepas, minyak, gemuk, cat, lumpur atau bahan-bahan lainnya yang tidak dikehendaki tetapi juga tidak licin karena digosok.

penempatan Duct tidak bersentuhan dengan tanah

Duct didatangkan dalam bentuk batangan dengan panjang 4 m. Duct dan komponen angkur disimpan dalam ruangan yang terlindung terhadap cuaca, memiliki sirkulasi udara yang baik, serta diletakkan di atas beberapa tumpuan balok kayu.

3. Fabrikasi Strand

Strand dipotong sesuai dengan panjang lay out kabel ditambah ± 0.8 m untuk balok

Strand dipotong sesuai dengan panjang lay out kabel ditambah ± 0.8 m untuk balok (sesuai dengan panjang alat stressing / jack yang dipakai) sebagai stressing length untuk tiap angkur hidup.

Pemotongan dilakukan di lokasi proyek setelah tersedia areal yang cukup. Panjang area yang dibutuhkan sama dengan panjang strand yang terpanjang yang akan dipasang. Fabrikasi strand dilakukan dekat dengan areal lantai yang akan dipasang.

4. Pemasangan Strand

Pada dasarnya pemasangan strand mengikuti pekerjaan pembesian balok

Kabel pra-tegang harus dirakit sesuai dengan petunjuk yang diikutsertakan dalam sertifikat persetujuan pabrik. Sebelum perakitan, maka permukaan baja pra-tegang harus diperiksa terhadap korosi. Karat lepas harus dibuang dengan tangan, yaitu dengan lap kain guni atau wol baja halus dan setiap jenis minyak harus dibersihkan dengan menggunakan deterjen. Suatu lapisan karat yang tipis tidak dianggap merusak asalkan baja tersebut tidak nampak keropos setelah dibersihkan dari karat.

Baja yang sangat berkarat atau baja yang keropos harus ditolak dan dikeluarkan dari tempat kerja. Benda asing yang melekat pada baja harus dihilangkan setelah pra-tegang atau sebelum penempatan dalam selongsong.

Profil Strand di dalam balok

Pada dasarnya pemasangan strand mengikuti pekerjaan pembesian balok. Pekerjaan pertama pemasangan duct. Pekerjaan didahului oleh pemasangan pembesian arah memanjang dan pemasangan besi web (sengkang). Selanjutnya dipasang support bar sebagai dudukan duct pada tiap jarak 1 m (atau mengikuti gambar kerja).

Selanjutnya duct diletakkan di atas support bar dan diikat dengan kawat ikat pada setiap support bar. Karena panjang duct hanya 4 m, maka diperlukan duct dengan diameter lebih besar 3 mm sepanjang 20 cm untuk menyabung duct tersebut. Pada setiap sambungan dililit dengan masking tape.

Potongan Posisi Strand Tiap Section Balok

Pada tiap support bar harus diperiksa ketinggiannya terhadap bekisting bawah dan harus sesuai dengan elevasi yang tertera pada gambar kerja. Selanjutnya pemasangan strand dilakukan dengan cara menusuk tiap satuan strand ke dalam duct dengan cara menusuk dari satu arah ke dalam duct satu persatu.

5. Pemasangan Angkur

Pemasangan Angkur Mati

Pemasangan angkur dilakukan setelah pemasangan strand ke dalam duct selesai. Pemasangan bagian angkur hidup (casting) disesuaikan dengan koordinat yang ada pada gambar kerja. Angkur dibaut atau dipaku pada box bekisting dan sambungan antara angkur dengan duct dibalut dengan masking tape untuk mencegahnya masuknya air semen ke dalam duct.

Di belakang angkur dipasang bursting steel sebagai tambahan perkuatan tulangan pada saat stressing. Ukuran, bentuk dan jarak disesuaikan dengan gambar kerja. Pada angkur mati juga dipasang bursting steel (spiral) sebagai tambahan perkuatan tulangan pada saat stressing.

Gambar Detail Pemasangan Angkur

Untuk selanjutnya setelah pemasangan duct, strand dan angkur selesai, maka dilakukan pengecekan terakhir terhadap elevasi tendon secara keseluruhan.

6. Pekerjaan Stressing

Operasi penarikan kabel harus dikerjakan oleh tenaga yang terlatih dan berpengalaman di bidangnya. Gaya pra-tegang harus diberikan dan dilepas secara bertahap dan merata. Gaya awal harus diberikan untuk menghitung pemuluran yang diperlukan. Kabel harus ditandai untuk pengukuran pemuluran setelah tegangan awal diberikan.

Bilamana terjadi slip pada salah satu kelompok kabel yang ditarik secara bersama-sama, maka tegangan pada seluruh kabel harus dikendorkan, kabel-kabel diatur lagi dan kelompok kabel tersebut ditarik kembali. Sebagai alternatif, jika kabel yang slip tidak lebih dari dua, penarikan kelompok kabel dapat diteruskan sampai selesai dan kabel yang kendor ditarik kemudian.

Gaya pra-tegang harus dipindahkan dari dongkrak penarik ke abutment landasan pra-tegang segera setelah gaya yang diperlukan (atau pemuluran) dalam kabel telah tercapai,  dan tekanan dongkrak harus dilepas sebelum setiap operasi berikutnya dimulai.

Pekerjaan ini dilaksanakan setelah mutu beton mencapai mutu seperti yang ditetapkan oleh perencana. Sebelumnya akan dikirimkan proposal perhitungan jacking force yang mencakup perhitungan elongation, data pembacaan manometer dan kalibrasi peralatan stressing jack yang digunakan. Pekerjaan stressing ini akan dilakukan bila kontrakator telah mengeluarkan surat perintah stressing dan setelah proposal stressing mendapat persetujuan.

Adapun tahapan pelaksanaan pekerjaan stressing adalah :

  1. Anchor head/barrel ini dipasang dengan cara memasukkan ujung stressing length ke lobang pada anchor head/barrel dan mendorongnya ke arah casting sedekat mungkin. Selanjutnya wedges dipasang sesuai dengan jumlah strand yang ada.
  2. Stressing jack dipasang dan dirapatkan ke arah casting sehingga posisi casting, anchor head/barrel dan stressing head rapat. Selanjutnya stressing dapat dilaksanakan.
  3. Selama stressing dicatat pembacaan manometer dan perpanjangan strand yang terjadi pada formulir stressing.
  4. Data yang tercatat dibandingkan dengan perhitungan teoritis dan ada batasan bahwa deviasi terhadap teoritis tidak boleh lebih (+) atau kurang (-) dari 7 %.
  5. Jika terjadi deviasi kurang dari (-) 7 % , maka langsung diadakan penarikan ulang tanpa melepas/menghilangkan gaya yang sudah ada. Dan jika terjadi deviasi lebih besar dari (+) 7 %, maka hasil stressing akan digambarkan pada sebuah grafik untuk melihat penyebab terjadinya penyimpangan tersebut.
  6. Hasil pencatatan stressing akan diserahkan kepada pihak konsultan pengawas untuk dievaluasi dan pekerjaan selanjutnya baru dapat dilaksanakan setelah pekerjaan stressing disetujui dan diterima oleh perencana.
  7. Pekerjaan selanjutnya adalah menutup anchor block/barrel dengan adukan semen untuk persiapan pekerjaan grouting.

7. Pekerjaan Grouting

Prsoses Grouting

Pekerjaan ini adalah mengisi rongga udara antara strand dengan duct dan rongga pada bagian dalam casting dengan bahan grout. Tujuannya adalah untuk menjaga bahaya korosi juga untuk mengikat strand dengan beton di sekelilingnya menjadi satu kesatuan. Digunakan campuran semen dengan air dan ditambahkan non shrinkage additive. Bahan grout ini dimasukkan ke dalam duct dengan pompa grouting dengan tekanan sebesar 5 kg/cm2. bahan ini dimasukkan dari salah satu titik angkur (inlet) sampai keluar di ujung lainnya (outlet).

Lubang penyuntikan harus disediakan pada jangkar, pada titik atas dan bawah profil kabel dan pada titk-titik lainnya yang cocok. Jumlah dan lokasi titik-titik ini harus disetujui oleh Direksi Pekerjaan tetapi tidak boleh lebih dari 30 meter pada bagian dari panjang selongsong. Lubang penyuntikan dan lubang pembuangan udara paling tidak harus berdiameter 10 mm dan setiap lubang harus ditutup dengan katup atau perlengkapan sejenis yang mampu menahan tekanan 5 kg/cm2 tanpa kehilangan air, suntikan atau udara.

Kabel harus disuntik dalam waktu 24 jam sesudah penarikan kabel selesai dilakukan kecuali jika ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan. Lubang penyuntikan harus diuji dengan diisi air bertekanan 8 kg/cm2 selama satu jam sebelum penyuntikan. Selanjutnya selongsong harus dibersihkan dengan air dan udara bertekanan.

Peralatan pencampur harus dapat menghasilkan adukan semen dengan kekentalan yang homogen dan harus mampu memasok secara menerus pada peralatan penyuntikan. Peralatan penyuntikan tersebut harus mampu beroperasi secara menerus dengan sedikit variasi tekanan dan harus mempunyai sistim untuk mengalirkan kembali adukan bila-mana penyuntikan sedang tidak dijalankan. Udara bertekanan tidak boleh digunakan. Peralatan tersebut harus mempunyai tekanan tetap yang tidak melebihi 8 kg/cm2. Semua pipa yang disambungkan ke pompa penyuntikan harus mempunyai suatu lengkung minimum, katup dan sambungan penyesuai antar diameter. Semua pengatur arus ke pompa harus disetel dengan saringan 1,0 mm. Semua peralatan, terutama pipa, harus dicuci sampai bersih dengan air bersih setelah setiap rangkaian operasi dan pada akhir operasi setiap hari.

Interval waktu antar pencucian tidak boleh melebihi dari 3 jam. Peralatan tersebut harus mampu mempertahankan tekanan pada selongsong yang telah disuntik sampai penuh dan harus dilengkapi dengan katup yang dapat terkunci tanpa kehilangan tekanan dalam selongsong. Pertama-tama air dimasukkan ke dalam alat pencampur, kemudian semen. Bilamana telah dicampur sampai merata, jika digunakan, maka aditif akan ditambahkan. Pengadukan harus dilanjutkan sampai diperoleh suatu kekentalan yang merata. Rasio air semen pada campuran tidak akan melebihi 0,45 menurut takaran berat kecuali ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan. Pencampuran tidak boleh dilakukan secara manual. Penyuntikan harus dikerjakan dengan cukup lambat untuk menghindari timbulnya segregasi adukan. Cara penyuntikan adukan harus sedemikian hingga dapat menjamin bahwa seluruh selongsong terisi penuh dan penuh di sekeliling kabel. Grouting harus dapat mengalir dari ujung bebas selongsong sampai kekentalannya ekivalen dengan grouting yang disuntikkan. Lubang masuk harus ditutup dengan rapat. Setiap lubang grouting harus ditutup dengan cara yang serupa secara berturut-turut dalam arah aliran. Setelah suatu jangka waktu yang semestinya, maka penyuntikan selanjutnya harus dilaksanakan untuk mengisi setiap rongga yang mungkin ada.

Setelah semua lubang ditutup, tekanan penyuntikan harus dipertahankan pada 5 kg/cm2 paling tidak selama satu menit. Selongsong penyuntikan tidak boleh terpengaruh oleh goncangan atau getaran dalam waktu 1 hari setelah penyuntikan. Tidak kurang dari 2 hari setelah penyuntikan, permukaan adukan dalam penyuntikan dan lubang pembuangan udara harus diperiksa dan diperbaiki sebagaimana diperlukan.

Kabel tidak boleh dipotong dalam waktu 7 hari setelah penyuntikan. Ujung kabel harus dipotong sedemikian rupa sehingga minimum terdapat selimut beton setebal 3 cm pada ujung balok (end block).

Contoh Pencatatan Pekerjaan Stressing

Penarikan dari satu arah
Tahap pertama diberikan gaya dengan pembacaan manometer sebesar 5 Mpa /50 bar dan selanjutnya diukur perpanjangan strand yang terjadi dan dicatat pada formulir stressing.

Tahap berikutnya dicatat tiap kelipatan 5 Mpa /50 bar sampai pembacaan maksimum yang ditentukan.

Data Pencatatan Stressing

 

Maximum pressure manometer = 490 bar
Maximum pressure manometer = 490 bar
Summary = 103 x (490/(490-50)) = 114.7 mm
Calculation = 110 mm
Deviation = ((114.7-110)/110) x 100 % = + 4.27 % < + 7 % (OK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here